Minggu, 04 Desember 2016

Ukhuwah di 212

Bismillahirrahmanirrahiim

Rasanya masih belum bisa move on dari Aksi 2 Desember 2016 kemarin, walaupun sedikit telat bergabung ke kerumunan masa.

Saya sangat suka dengan perkataan Aa Gym yang akhir2 ini sering terlihat di televisi, beliau selalu mengatakan bahwa "Sangat rugi apabila kita selalu membahas masalah tanpa mengambil pelajaran dari hal tersebut".

Hal ini sangat relevan dengan kejadian yang terjadi di Indonesia, terutama Jakarta akhir-akhir ini.. Hampir sebulan rasanya timeline sosial media sibuk sekali membahas "insiden" yang terjadi di kepulauan seribu dengan argumen masing-masing.

Kembali kepada aksi 212 kemarin, kebetulan saya berangkat sendiri dari Depok, lalu akhirnya bertemu dengan rombongan seorang Habib dari Cimanggis.

A : "Habib, saya izin ikut rombongan Habib ya, saya cuma sendiri"
H : "Oh ya dek silahkan, kita berjamaah saja sama rombongan"

Selama perjalanan, saya ngobrol banyak dengan Habib, dan tidak sepatah katapun kita menjelek-jelekan atau menghina bapak Gubernur. Saat disinggung mengenai pak Ahok, Habib mengatakan bahwa "Allah selalu punya rencana untuk menyatukan umat-Nya salah satunya lewat pak Ahok ini".

Kami turun di stasiun Gondangdia, lalu jalan menuju arah gerbang stasiun yang sudah cukup ramai, saat diluar gerbang stasiun ada sekelompok jamaah lain yang dengan pengeras suara mengatakan "Makan siang, makan siang, silahkan ambil.. Ayo jaga niatnya hanya untuk Allah, jangan lupa sampahnya dibersihkan".

MasyaAllah, mereka sangat peduli dengan rombongan-rombongan yang baru datang bergabung.

Lalu kami jalan menuju tugu tani, ditengah2 gang, kami ditawari wudhu oleh penjaga warung, "Bapak-bapak, silahkan wudhu disini, karena disana (tugu tani) susah cari tempat wudhu..

Kembali saya mengatakan dalam hati, "MasyaAllah, semoga warungnya berkah pak"..

setelahnya kami menuju tugu tani, dan kebetulan disana sudah sangat2 padat, akhirnya rombongan Habib shalat didekat mobil yang diparkir di jalan secara rapih.. Kemudian gerimis, dan hujan turun semakin deras, suara takbir terdengan menggema "ALLAHU AKBAR".

Seseorang disebelah kanan saya menawarkan plastik besar, "Mas, tasnya dibungkus ini, nanti basah". (Kebetulan saya membawa tas besar yang isinya laptop karena dari kampus).

Lalu sebelah kiri saya menggelar sajadah untuk saya, "mas, silahkan shalat disini" (saat itu kondisi saya masih berdiri dan menggendong tas seolah masih mencari tempat untuk shalat). Lagi-lagi saya mengucapkan, "MasyaAllah, mereka peduli sekali dengan sesama, peduli dengan saya".

TIba akhirnya waktu shalat, hujan semakin deras dan kami tetap berada diposisi masing2, saat yang paling nikmat adalah sujud diatas sajadah basah yang terguyur hujan... MasyaAllah, nikmat sekali.

"Sungguh tidak ada satupun orang yang bisa menggerakan hati kami seperti ini kecuali Allah"

Selesai Shalat, sebelum kami beranjak, kami bersihkan koran-koran basah yang menempel dijalan. Setelah itu saat jalan mendekati arah monas, sayangnya saya terpisah dengan rombongan Habib (semoga suatu saat Allah mempertemukan kita lagi bib).

Akhirnya saya jalan sendiri bergabung dengan masa lainnya didepan KFC tugu tani. Disana saya melihat sesuatu yang luar biasa.

Ribuan orang dari berbagai ormas membawa panji mereka masing-masing jalan beriringan.. Mereka tidak lagi peduli dengan perbedaan yang ada pada kelompok mereka.. Saya melihat rombongan Muhammadiyah, NU, Persatuan Islam daerah x, dll. saling menyapa, saling ngobrol, sampai sharing makanan..

Ternyata benar, apa yang didalam pikiran kita dirasa tidak mungkin, itu sangat sangat mungkin dimata Allah, "Kun Fayakuun", akhirnya umat Islam bersatu tanpa memandang kelompok, tanpa memandang usia, semua bersaudara..

Sampai pada akhirnya, aksi ini pun berakhir tanpa ada kericuhan, disini juga saya yakin akan kuasa Allah membuat aksi kemarin sangat bermartabat, sekali lagi "Kun Fayakuun".

Masa sebanyak itu tidak ricuh sama sekali..

Rasanya, sayang banget kalau kita selalu memandang aksi kemarin dari sisi negatifnya saja, karena setiap kejadian pasti ada saja oknum tidak bertanggung jawab (yang hanya kecil jumlahnya) yang justru diblow up untuk menurunkan martabat aksi ini.

 Semoga Allah mencatat perjuangan kita, baik yang berjuang dilapangan, maupun yang berjuang dirumah atau Masjid masing-masing sebagai Ibadah. Ibadah apa? Salah satunya ialah mempererat tali persaudaraan sesama Muslim.

Yogyakarta, 4 Desember 2016
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Jika Asal harus diusul
tetapi usul tidak boleh asal